Selasa, 29 November 2016

Cerita dibalik Sumur Pembantaian




Pernahkan anda berkunjung ke tempat bersejarah ini? Pernahkan terlintas di pikiran anda asal usul tempat bersejarah ini?

Ya, Lubang Buaya. Tempat yang kita ketahui sebagai sejarah gerakan G30S PKI (Gerakan 30 September 1965). Partai Komunis Indonesia (PKI) yang melakukan pembantaian atas 7 orang jenderal Indonesia. 

Menurut ukiran sejarah, TNI AD, Jenderal Ahmad Yani, Letnan Jenderal Suprapto, Letnan Jenderal Haryono, Letnan Jenderal Siswondo Parman, Mayor Jenderal Pandjaitan, Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, dan Kapten Pierre Tendean diculik dan dibunuh di Desa Lubang Buaya oleh pasukan G30S PKI pada 1 Oktober 1965. 

Itu adalah sejarah yang teringat di benak kita, ketika mendengar lubang buaya. Namun, ada kisah menarik yang menjadi asal usul nama dari tempat bersejarah ini. 

(http://jakartakita.com/2015/10/02/cerita-di-balik-asal-usul-nama-lubang-buaya/ )Alkisah pada zaman dahulu kala, Datuk Banjir bersama kedua temannya sedang melintasi kawasan yang kini disebut Lubang Buaya. Saat itu hujan deras. Datuk Banjir yang dikenal sakti mandraguna sedang melintasi kawasan itu sambil mengayuh getek.

 Tiba-tiba getek yang ditumpangi Datuk Banjir dan dua temannya berhenti.Kedua temannya ketakutan mereka akan bertemu dengan sekelompok buaya putih yang terkenal biasa mendiami rawa-rawa di sekitar itu.

Datuk penasaran. Datuk mengambil galah dan membenamkan ujungnya ke dasar air untuk mendapatkan gerak maju. Dasar air tak tersentuh. Getek tetap diam. Dicobanya lagi, masih tak berhasil. Datuk pun mengira, di sana ada lubang tempat persembunyian buaya. Datuk pun memutar arah agar geteknya bisa berjalan.
Ketika air telah surut, Datuk kembali ke sana. Benar saja, di situ terdapat sebuah lubang. Bentuknya seperti sumur. Ia menamakannya Lubang Buaya.

Namun itu hanya rumor yang belum bisa dibuktikan kebenarannya. "Ya masuk akal lah, siapa tau kan bener ada buayanya, itu kan sejarah orang" menurut Petrus mahasiswa UBM. 

Namun Maikel seorang mahasiswa UBM berpendapat lain "Gk masuk akal sih,bisa juga dia ngada ngada cerita biar daerah itu terkenal dan mendatangakn orang untuk datang kesana" 

Entah itu faktanya ataupun hanya kabar burung belaka, ada baiknya kita tetap menjaga sejarah ini juga tempat bersejarah ini. 

Hasil gambar untuk lubang buaya

Selasa, 22 November 2016

Surga Dunia di Pulau Tetangga

Kristoforus Arnold
14150102

         Jejak kaki yang membekas di pasir, hembusan angin yang sejuk, tanaman bakau yang menancap. Serta pelayanan yang ramah dari warga sekitar, Seakan akan itu semua membuat tidak inging berpaling dari tempat ini. 


         Senyum nan ramah dari warga sekitar, penjual cilok dan penjual siomay seakan seakan menjadi penerima tamu kita di dermaga tersebut. Ketika turun dari kapal banyak sekali penjual penjual makanan yang seakan akan tahu kita lapar setelah melakukan perjalanan laut selama 1,5 jam. 


          Ya, tempat tersebut adalah Pulau Pari. Pulau ini berada di tengah gugusan pulau yang berderet dari selatan ke utara perairan Jakarta. Dengan pantainya yang berpasir putih dan berair bening kehijauan, Pulau Pari menjadi salah satu objek wisata di Kepulauan Seribu.


           Pantai pasir perawan, pantai tersebut merupakan objek yang sangat dijual di Pulau tetangga ini. Pasir putih nan lembut, seakan akan menyambut kaki kita masuk ke area pantai ini. Disertai air ombak yang tenang, menambahkan ketenangan jiwa saat menginjakan kaki di tempat ini. 


          Selain Pantai pasir perawan, ada Dermaga Bukit Matahari dan Pantai Pasir Kresek. Ketiga tempat itu menjadi Nilai jual Pulau tersebut. Dengan itu pariwisata pulau pari bisa menghasilkan uang untuk masayrakat sekitar. maka marilah kita berwisata ke Pulau Pari